Cerita Inspirasi : Dokter Sukses Dibalik Sopir Taxi dan Penjual Gorengan

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


SUPIR TAXI ITU TERNYATA?

Lusa malam aku berkunjung ke apartemen sahabat karibku Isty yang berada di tengah kota Kalibata. hanya sekedar melepas rindu pada Isty serta adiknya Eky,
Inspirasi, Sopir Taxi

Kedua sahabatku itu sedang berada di indonesia setelah menempuh pendidikannya di negri tetangga Singapura, karena saat ini mereka sedang berlibur, tak ada salahnya jika menghampiri walau hanya sekedar minum kopi saja.

Saat itu waktu menunjukan pukul 15:56 aku memutuskan berangkat menggunakan komutter line karena letak rumah sohibku tidak jauh dari Stasiun KA,

Tak kupikir sebelumnya, ternyata kereta yang ditumpangi sangat padat karena memang jam-jam segini waktunya rombongan orang keluar kerja, tapi apadaya aku kereta sudah berjalan...

Perjalananku ditemani anakku Andhika dan temanku Syntia agar perjalananku terasa ramai, dan karena itu juga Andika jarang mengunkan tranportasi semacam ini..

Sampai di stasiun Pondok Cina-Depok kulihat jam tanganku menunjukan pukul 21:30 , malam terus beranjak tak terasa begitu juga bulan semaik terang.... usai membeli jus melon penghilang dahaga, Andika, Syintia dan aku segera menyebrang untuk menunggu taxi di depan SD Pondok Cina.

Dari kejauhan Taxi menghampiri dan Aku segera melambaikan tangan mengingatkan sopir didalamnya , Taxi berhenti seketika namun drivernya menunjuk-nunjuk ke depan , "Oh ternyata ada antrian taxi yang sedang nge-tem" ucapku dalam hati, Akupun bergegas ke deretan Taxi.

Pilihanku tertuju pada sebuh Taxi yang paling depan karena mungkin tidak butuh waktu lama menunggu, kami pun segera masuk.

Usai saling menyapa, Taxi melaju dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba di jl. Juanda Hanphone supir berbunyi,

Sedikit kudengar percakapan antara mereka " iya Nduk (panggilan untuk anak perempuan). Bapak masih di jalan, bawa tamu, nanti Bapak hubungi ya!" Ucap sopir

Tak lama percapan mereka diakhiri dengan salam, aku bertanya " Bapak dari Jawa". ucapku, mengingat dialeknya tadi kental dengan logat jawa. Aku memang terbiasa mengajak ngobrol pengemudi taxi dan bertukar cerita, untuk mencairkan suasana.

"Iya Bu, saya dari Solo".

Kemudian kami saling memperkenalkan  diri, aku berkata bahwa kami juga berasal dari jawa tengah.

Akhirnya kutahu Supir taxi yang ramah itu bernama Pak Suradi ayah 2 orang anak, yang pertama perempuan dan yang kedua laki-laki.

Singkat cerita Pak Suradi bercerita bahwa yang tadi menelphonenya itu putri pertama yang tinggal di kalimantan. Aku bercerita bahwa kami juga baru pulang dari Pontianak Kalbar.

" Putri Bapak tinggal dimana? " Tanyaku.

" Tadinya di Bulukumba Bu, tapi kemudian pindah ke Muara pahu, 15 jam dari Samarinda".Jawabnya

"Jauh sekali," aku berseru

Shytia yang pernah tinggal di daerah itu menggubris obrolan kami, " iya saya dulu juga pernah tinggal di sana, malah semalam baru sampai desa pemukiman transmigran karena jauh".

Iseng aku bertanya "Anak Pak Radi ikut suaminya tugas dimana?

"Suami anak saya di Samarinda, anak saya kerja di Puskesmas".

Masih dengan perasaan yang biasa, aku melanjutkan obrolan, "Jadi perawat atau bidan disana Pak?"

"Alhamdullilah putri saya Kepala Puskesmas disana Bu".

"Waw.. "aku terkejut, segera aku menegakkan tubuh di kursi dan memanjangkan jangkauan pendengaranku. Mendengar jawaban itu aku jadi penasaran.

"Hebat sekali Pak, maaf mungkin Pak Radi bisa bercerita pada saya, agar bisa menjadi inspirasi bagi yang membaca cerita-cerita saya di FB".

"Boleh Bu, tapi maaf mungkin Ibu pernah melihat tayangan acara Hitam Putih yang di Pandu Dedy Cobuzier, juga acara Kick Andi yang bercerita tentang "Anak penjual gorengan yang jadi dokter?"

Aku menjawab "Tidak Pak"

Shytia Yu berkata "Iya saya nonton, sekitar tahun 2012"

"Iya Andhika juga nonton Bu", putraku menyambung pembicaraan.

"Iya benar " kata Pak Radi.

Dia kemudian bercerita : "Kami punya seorang putri yang bernama Dewi Sartika, sejak kecil dia menjadi siswi berprestasi di sekolah. Saat SMP Dewi masuk sekolah di SMP Negeri 1 Bogor, kemudian SMA Dwi Warna boarding school, berkat kepandaiannya dia bahkan mendapat bea siswa dan masuk kelas akselerasi yang hanya sekolah selama 2 tahun saja.

Setamatnya dari SMA, Dewi masuk kuliah ke Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) melalui jalur undangan.

Sebagai seorang putri dari sopir taxi yang sudah berprofesi selama 30 th, dan ibu penjual gorengan. Tak terbersit sekalipun di benak Dewi untuk menjadi seorang dokter. Karena biaya yang sangat tinggi. Dia bahkan bercita-cita hanya ingin  menjadi seorang guru.

Namun berkat usaha yang gigih, semangat untuk merubah nasib. Membawa peruntungan yang positif dalam hidup Dewi.

Dia belajar sungguh-sungguh diperantauan, hanya dengan mengandalkan bea siswa serta usaha nya mengajar berbagai les, untuk tambahan biaya hidup dan kuliah.

Jerih payah tersebut berbuah manis dan berhasil, menghantarkan Dewi sebagai lulusan terbaik atau Cum Laude dengan IPK 3.9 nyaris sempurna.

Suatu kebanggaan bagi Dewi secara Pribadi, juga kebanggaan orang tua sederhana yang bahagia melihat putri mereka, berhasil menuntaskan tugas pendidikan menjadi seorang dr. Umum.

dr. Dewi Sartika kemudian di tempatkan di Bulukumba Sulawesi, hingga menemukan pujaan hati, alumni Univ. Sebelas. Maret (UNS) yang bekerja di Oil and gas company.

Keluarga kecil itu kemudian pindah ke Samarinda, Kaltim, tempat Menantu Pak Supardi bertugas. Mereka kemudian mengadopsi dua orang anak, namun kemudian dr. Dewi ditugaskan sebagai Kepala Puskesmas Muara Pahu Kaltim.

Disana lahirlah 2 anak pasangan ini, yang sekarang berusia 4 th dan 3 bln. Karena masih terlalu kecil, cucu-cucu pak Pardi ini ikut Ibunya di Muara Pahu, dan bertemu setiap 2 minggu sekali dengan ayah dan 2 orang kakak yang lain.

Kisah ini pernah ditulis oleh majalah wanita "Femina", dan oleh Tim Hitam Putih dan Kick Andi,  ditelusuri hingga putri kami diundang dalam acara mereka".

Pak Suradi  mengakhiri ceritanya, kami bertiga di dalam taxi terdiam.

Aku menarik nafas panjang, kemudian berkata "Luar biasa pak Radi, sebuah kisah inspiratif. Saya tidak menyangka malam ini bertemu seorang yang hebat seperti Bapak Ujarku".

"Saya cuma sopir taxi biasa Bu, istri saya juga cuma seorang penjual gorengan saja, tanpa usaha dari anak saya sendiri. Dia juga bukan apa-apa sekarang, kami hanya membantu dengan dukungan moril dan do'a" .

"Kalau boleh tahu, putra bungsu Bapak dimana sekarang?"

"Putra kami sedang kuliah di jurusan Akutansi Fak. Ekonomi Univ Pakuan Bogor, biarlah dia menemani hari tua kami, terutama Ibunya. Karena sayapun mencari nafkah sebagai supir taxi. Hingga keluar kota Bogor". Pak Pardi menambahkan.

Tak terasa Taxi yang kami tumpangi sudah berbelok memasuki jl. Bhakti ABRI hingga sampai di depan rumah kami, yang berhalaman rindang. Rasanya belum puas aku mendengar cerita dari Pak Radi  dan istri, kiat-kiat menyukseskan 2 orang anak, dalam keterbatasan.

Aku masih terkagum-kagum pada pribadi Bapak Suradi, sopir taxi yang memiliki anak berprestasi.

Dua pelajaran yang dilihat Anak ku di malam itu.

Yang pertama ketika dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan police line, saat seorang pria mengakhiri hidupnya dan loncat dari lantai 10 apartemen tempat tinggal temanku, hingga tewas seketika. Masalah yang tidak dapat diselesaikan serta pikiran yang pendek, membuat pria tadi mengambil keputusan yang salah untuk mengatasi problem hidupnya.

Yang kedua, Andhika melihat dengan kepalanya sendiri. Berkenalan dengan Supir taxi yang hebat, suami dari penjual gorengan. Yang meniti hidup yang keras ini dengan penuh semangat, mengurai hambatan dan tantangan, menjadi sebuah kesuksesan.

Sahabatku, "Hidup ini adalah Pilihan, dan perjuangan". Apapun yang kau pilih itu semua ada dalam genggamanmu.

Tetap melangkah ditengah badai, hingga melihat mentari bersinar indah. Atau kembali ke langkah awal, tanpa hasil apa-apa kecuali kegelapan.

Sejarah akan mencatat, apakah engkau seorang Pahlawan atau pecundang.

Silahkan dibagikan kisah ini, untuk inspirasi.


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Reaksi:
Share this with short URL:

You Might Also Like:

How to style text in Disqus comments:
  • To write a bold letter please use <strong></strong> or <b></b>.
  • To write a italic letter please use <em></em> or <i></i>.
  • To write a underline letter please use <u></u>.
  • To write a strikethrought letter please use <strike></strike>.
  • To write HTML code, please use <code></code> or <pre></pre> or <pre><code></code></pre>.
    And use parse tool below to easy get the style.
Show Parser Hide Parser